Haru di Wisuda Unilak Pekanbaru, Mahasiswa Disabilitas Raih Gelar Sarjana, Tangis Orang Tua Pecah di Hadapan Rektor

Haru di Wisuda Unilak Pekanbaru, Mahasiswa Disabilitas Raih Gelar Sarjana, Tangis Orang Tua Pecah di Hadapan Rektor

DARIRIAU - Momen haru dan penuh inspirasi mewarnai Wisuda Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru yang dilaksanakan pada 28-29 Oktober 2026. Di tengah ribuan wisudawan, 10 mahasiswa disabilitas berhasil menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) dan resmi menyandang gelar sarjana. Capaian luar biasa ini menjadi bukti komitmen Unilak sebagai kampus inklusif di Riau. 

Kesepuluh mahasiswa disabilitas yang berhasil meraih gelar sarjana di kampus Unilak Pekanbaru tersebut masing-masing Aufa Syafikha Maulia, Rudi Setianto, Rabiatul Adawiyah, Ezelya Dhea Andina, Mayres Chata.

Selanjutnya ada Mohd Khasbullah R, Qurutul Uyun Harahap, Farid Mahmud, Roro Darma Tirta, dan Resha Anzara Putri.

Kesepuluh wisudawan disabilitas tersebut mendapat perhatian khusus dari Rektor UNILAK Prof Dr Junaidi, saat prosesi wisuda. Mereka dipanggil secara khusus untuk berdialog langsung dengan Rektor di atas panggung.

Dialog tersebut berubah menjadi momen haru ketika salah satu orang tua wisudawan, Arifin dan istri, diberikan kesempatan untuk menyampaikan isi hatinya di hadapan seluruh civitas akademika.

Dengan suara bergetar, Arifin mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya. Ia mengaku memilih Universitas Lancang Kuning karena nilai plus yang tidak dimiliki kampus lain, yakni keberanian dan ketulusan Unilak menerima mahasiswa disabilitas.  "Kami melihat Unilak ini beda dari Universitas lain, yaitu menerima mahasiswa disabilitas," ujar Afriadi dengan mata berkaca-kaca.

Afirin juga menyampaikan ribuan terima kasih kepada Rektor UNILAK, para dosen, dan ibu pembimbing yang telah dengan sabar membimbing anaknya hingga jatuh bangun menyelesaikan studi S1.  Ia juga berterima kasih kepada pemerintah daerah yang telah menyalurkan beasiswa sehingga sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan anaknya.

"Tidak ada yang mau mempunyai anak dengan keterbatasan, tapi kami bahagia dan bangga, ini adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada kami," ungkapnya.

Rektor Unilak yang memimpin dialog tersebut memberikan apresiasi tinggi dan mengajak seluruh hadirin memberikan standing applause. "Tolong berdiri, kita berikan standing applause untuk adik-adik kita ini," seru Rektor yang langsung disambut tepuk tangan panjang dari seluruh wisudawan dan orang tua. Suasana haru pun tak terbendung ketika para orang tua lain ikut meneteskan air mata.

Afriadi menutup curhatnya dengan sebuah harapan besar. Ia menceritakan bahwa sang anak bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Universitas Lancang Kuning. "Beliau mau melanjutkan S2-nya, mohon doa Bapak Ibu semuanya, berikan kami kekuatan, kesehatan dan kemurahan rezeki, mudah-mudahan cita-cita beliau kami ikuti," tutup Afriadi.

Kisah 4 sarjana disabilitas Unilak ini menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih pendidikan tinggi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index